KEK Pulau Baai, Langkah Konkret Tingkatkan Perekonomian Bengkulu

Jumat, 17 Mei 2019 | 5:26 am | 310 Views

BENGKULU SATU – Seyogyanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan suatu wilayah dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.

Pada dasarnya KEK dibentuk untuk membuat lingkungan kondusif bagi akitivitas investasi, ekspor, dan perdagangan guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi serta sebagai katalis reformasi ekonomi. Untuk ide ini diinspirasi dari keberhasilan beberapa negara yang lebih dulu mengadopsinya, seperti Tiongkok dan India.

Bahkan data-data empiris melukiskan bahwa KEK di negara tersebut mampu menarik para investor, terutama investor asing untuk berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja. Hal itu tak lain karena kemudahan yang didapat para investor, kemudahan itu berbentuk kemudahan di bidang fiskal, perpajakan dan kepabeanan. Bahkan ada juga di bidang non-fiskal, seperti kemudahan birokrasi, pengaturan khusus di bidang ketenagakerjaan dan keimigrasian, serta pelayanan yang efisien dan ketertiban di dalam kawasan.

Hal demikianlah yang tengah difokuskan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu dalam upaya melakukan peningkatan perekonomian dan daya daya saing dengan Provinsi atau daerah lainnya baik di pulau Sumatera amaupun di Indonesia. Dampak lain keberadaan KEK di Bumi Rafflesia ialah memberikan peluang bagi peningkatan investasi di Bengkulu melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan dan siap menampung kegiatan industri, ekspor, impor, serta kegiatan ekonomi yang memiliki nilai ekonomi tinggi, penerimaan devisa sebagai hasil dari peningkatan ekspor hasil industri, dan meningkatkan keunggulan kompetitif produk ekspor serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal, pelayanan dan modal bagi peningkatan eksport.

Sebelumnya, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat melauching secara resmi Ekspor Komoditas Unggulan Provinsi Bengkulu dalam rangka HUT Emas Provinsi Bengkulu mengungkapkan, Pelabuhan Pulau Baai merupakan salah satu komponen penting dalan membangun Provinsi Bengkulu. Menurutnya, wilayah yang berjarak 20 km dari pusat Kota Bengkulu ini mampu menjadi pintu utama pengembangan ekonomi masyarakat, melalui aktivitas ekspor-impor.

“Bengkulu memiliki kesiapan baik dari sisi kualifikasi infrastruktur, termasuk SDM untuk melaksanakan kegiatan ekspor ini,” kata Rohidin yang kali itu masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt).

Rohidin menambahkan, Bengkulu dalam kondisi siap untuk memasarkan produknya ke luar daerah. Terlebih, provinsi ini memiliki potensi alam yang layak untuk diekspor.

“Launching ini kita maksudkan, kita ingin menyampaikan kepada para stakeholders negara – negara tujuan, bahwa Bengkulu memiliki potensi alam yang sangat pantas dan bermutu untuk di ekspor,” ungkap Rohidin.

Ia menjelaskan, beberapa produk unggulan seperti kopi, cangkang sawit dan hasil pertambangan di Bengkulu, memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produk luar. Belum lagi dari sektor perikanan yang terbilang cukup potensial untuk digarap. Semua produk unggulan ini akan diarahkan pemasarannya melalui dermaga Pulau Baai.

“Demikian juga komoditas – komoditas lain seperti CPO, Cangkang Sawit, Batu Bara, Produk kayu olahan, Kopi semuanya kita arahkan melalui Pulau Baai, namun pastikan produknya, asosiasi eskpor dan Pelindo semuanya siap,” jelas Rohidin.

KEK memiliki lima fokus industri nantinya, yaitu Batu bara (pengolahan hasil tambang untuk menunjang industri baja nasional, Kelapa Sawit (industri oleokimia dasar), Karet (industri pengolahan karet penunjang otomotif dan elektronik), Kayu (industri pengolahan kayu), Perikanan (industri pengalengan ikan), dan Sapi potong (penyederhanan olahan daging sapi siap saji).

Fokus industri tersebut tentunya telah memiliki mitra potensial masing-masing, diantaranya PT. Sudevam (25 Ha) untuk pabrik minyak goreng dan fasilitas pendukung lainnya, PT. Bancolen Batubara Coal (5 Ha) sebagai pabrik pengolahan carbon steel dan fasilitas pendukung lainnya, PT Bumi Rafflesia (15 Ha) pabrik pengolahan ikan dan fasilitas pendukung lainnya, PT. Andusti (10 Ha) pabrik pengolahan pakan ternak dan fasilitas pendukung lainnya.

Di zona A hingga D indutri Energi Biomasa di bawah naungan PT. Bengkulu Biomass Energi dengan pembagian luas hektar yang telah ditentukann, kemudian zona E dan G industri Plywood & olahan kayu naungan PT Anugerah Pratama Insprirasi, zona H Batubara untuk Iron Steel naungan PT Bencoolen Carbon Steel, zona I Packing Semen naungan PT Semen Padang Packing Plant, zona J olahan kayu dari PT Tiga Daya, terakhir di zona K, L, M industri pengolahan air, pengolahan gas, dan pembangkit listik.

Menarik Minat Investor Dalam dan Luar Negeri

KEK Pulau Baai Bengkulu masih dalam tahap penggodokan, kendati demikian kawasan ini sudah dilirik para investor baik dalam maupun luar negeri. Perlu diketahui, saat ini sudah ada sekitar enam investor yang sudah berjalan proyeknya di kawasan tersebut. Salah satunya adalah pembangkit tenaga listrik dengan kapasitas 2 x 100 megawatt yang saaat ini konstruksinya sudah 75%.

Selain itu, juga sudah masuk investasi pengepakan semen Padang, groundbreaking terminal cair dengan luas mencapai 5 hektare, yang mana investasi akan menunjang serta memenuhi kebutuhan ekspor-impor di sumatera nantinya. Juga ada investor dari luar negeri yang mencapai angka Rp 4 Triliun , yakni investasi Sudevam Grup dari India bergerak di bidang pengolahan minyak, yang juga nantinya diharapkan mendorong ekspor CPO sudah dalam bentuk produk turunan.

“Selain itu, sudah ada persiapan investasi instalasi karantina hewan nasional. Dengan adanya instalasi karantina hewan nasional, diharapkan impor ternak menjadi lebih terkontrol melalui satu pintu,” jelas Rohidin.

Penyerahan BKPM APPROVAL Sudevam Group kepada Pemprov Gubernur Bengkulu

Dukungan Dari Dewan Nasional KEK dan Menteri Perindustrian

Usulan pembangunan Pulau Baai menjadi KEK pun disambut baik oleh Dewan Nasional KEK Republik Indonesia, seperti yang diungkapkan Enoh Suhartono Pranoto selaku Sekretaris Dewan Nasional KEK RI, Menurutnya, dari 12 Kawasan Ekonomi Khusus yang ada di Indonesia, enam diantaranya ada di wilayah Sumatra bagian timur. Kondisi ini sangat memungkinkan Pulau Baai Bengkulu menjadi Kawasan Ekonomi Khusus di bagian barat pulau Sumatra.

“Pada prinsipnya, Dewan Nasional KEK menyambut baik usulan Pulau Baai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Tapi tentunya dalam rangka pengusulan ini, pengusul harus betul-betul memperhatikan hal-hal yang saya sebutkan tadi seperti infrastruktur dan lain-lain. Kami tentunya senantiasa akan membantu menfasilitasi,” terang Enoh, Jumat (1/3/2019) lalu di Hotel Kampinski Jakarta.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu menyampaikan bahwa, KEK di Pulau Baai Bengkulu bakal mampu menjadi penggerak ekonomi kawasan Barat Pulau Sumatera.

Hal ini, tambah gubernur, diperkuat kondisi geografis Bengkulu yang memiliki posisi strategis sebagai jalur alternatif logistik nasional.

“Geografis Bengkulu diapit empat provinsi besar, Sumbar, Jambi, Sumsel dan Lampung, dalam kondisi ini, Bengkulu bakal mampu menjadi beranda ekonomi pulau Sumatra,” ujar Rohidin.

Alasan strategis lainnya, tambah Rohidin, mengapa pelabuhan Pulau Baai Bengkulu layak menjadi Kawasan Ekonomi Khusus, salah satunya adalah kawasan Pulau Baai memiliki kolam pelabuhan terbesar dan hanya berjarak 15 km dari pusat kota/hanya 10-15 menit ke Bandara.

Pelabuhan Bengkulu berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, dengan demikian bisa akses langsung ke luar negeri. Selain itu, pelabuhan Pulau Baai dapat mengurangi kepadatan pelayaran arus Selat Malaka, dan sebagai gerbang akses barang dari dan ke wilayah pesisir barat Sumatra.

Alasan lainnya, tambah Rohidin lagi, kawasan Pulau Baai memiliki luas lahan dua kali lipat lebih besar dari Tanjung Priok dan status lahan clean and clear dengan dukungan insfrastruktur strategis.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasi IPC Bengkulu Prasetyadi menyampaikan kesiapan Pelabuhan Pulau Baai menuju KEK, yakni dengan telah ditetapkan lahan yang disiapkan untuk dijadikan kawasan KEK sebesar 415,38 Ha, dan fasilitas pendukung untuk menyambut Investor di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. .

Diharapkan dalam kegiatan Investasi yang mengundang para mitra potensial dari lintas Negara yakni seperti Dutabesar Korea Selatan, Duta Besar India, Duta Besar Cina dan Para Investor dari dalam dan luar Negri ini, dapat melirik dan tertarik dengan kekayaan serta potensi yang ada di Provinsi Bengkulu dan berinvestasi di Provinsi Bengkulu khususnya di Kawasan Pulau Baai Bengkulu.

Turut hadir dalam forum ini, Kepala Departemen Regional Bank Indonesia Dwi Pranoto, Wartawan senior Harian Kompas Wahyu Haryo, sejumlah duta besar negara sahabat, seperti Duta besar Korea Selatan, Duta Besar India, Duta Besar Cina, serta Para Investor dari dalam dan luar Negeri.

Selain itu, KEK Pulau Baai ini juga mendapatakan dukungan dari Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Dukungan ini disampaikannya ketika melakukan peninjauan secara langsung ke Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu pada Sabtu 14 April 2018 lalu.

Beliau menyatakan bahwa pembangunan KEK ini diharapkan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Bengkulu, pemerataan pembangunan dan peningkatan investasi di Bengkulu. Komoditas seperti sawit dan batu bara yang selama ini keluar dari pelabuhan Palembang dan Padang, selanjutnya akan bisa langsung di keluarkan dari pelabuhan Pulau Baai.

Peninjauan langsung oleh Menteri Perindustrian ke Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu

KEK Pulau Baai Berpotensi Menjadi Terbesar Se-Indonesia

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu bersama PT Pelindo II Bengkulu dan para investor menggelar Focus Group Discussion (FGD) di hadapan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) RI terkait rencana pembangunan KEK di Pelabuhaan Pulau Baai Bengkulu, yang belangsung di kantor Pelabuhan Indonesia II pusat, Tanjung Priok, Jakarta, kemarin (4/3/2019).

Pelabuhaan Pulau Baai dan potensi unggulan di Provinsi Bengkulu sangat mendukung hadirnya KEK di Provinsi Bengkulu tersebut. Kepala Bagian Pengelolaan Informasi Sekretariat Dewan Nasional KEK RI, Ahmad Bukhori menegaskan, banyak sekali kekhususan yang dimiliki Bengkulu, baik komuditas unggulan dan lokasinya yang sangat strategis. Bahkan, pengembangan Pelabuhan Pulau Baai sebagai KEK dinilai mampu menjadikan Bengkulu sebagai tujuan investasi masa depan.

“Sebetulnya tidak ada alasan bagi pemerintah (pusat) untuk tidak meng-gol-kan Kawasan Ekonomi Khusus Pulau Baai,” ujar Bukhori.

Dikatakannya, hal yang menguatkan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu menjadi KEK, salah satunya pelabuhan yang dimiliki berhadapan langsung dengan laut lepas. Dari sisi itu, menurut Bukhori, menguatkan Bengkulu layak menjadi KEK. Bukhori juga berharap, proses pengumpulan persyaratan Pulau Baai sebagai KEK, bisa segera diselesaikan.

“Lihat prosesnya, mudah-mudahan lebih cepat, saya pribadi memprediksi bisa tahun ini,” tutur Bukhori dalam FGD KEK Pulau Baai di kantor Pelabuhan Indonesia II pusat, Tanjung Priok Jakarta, kemarin (4/3/2019).

Pada kesempatan tersebut, para investor yang hadir, sangat berharap dan antusias mendorong agar KEK Pulau Baai segera direalisasikan dalam waktu dekat. Direktur PT Sudevam Ultra Tec Green, Lalit Khumar, KEK di Pelabuhaan Pulau Baai mampu menjadi KEK terbesar dan paling produktif di Indonesia dengan semua potensi yang ada saat ini.

“Saya meyakini KEK Pulau Baai akan menjadi KEK terbesar di Indonesia,” ujar Lalit. 

Foto bersama Gubernur Bengkulu dengan peserta FGD di hadapan Dewan Nasional KEK RI

Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah meyakinkan para investor dan stakeholder yang hadir, bahwa keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus Bengkulu, akan menjadi resolusi pembangunan ekonomi Indonesia khususnya di bagian tengah dan pesisir barat pulau Sumatra.

”Potensi pelabuhaan Pulau Baai di Bengkulu tidak perlu diragukan lagi. Selain luas lahannya, lokasinya sangat strategis untuk kegiatan ekspor. Secara geografis pun Pelabuhan Pulau Baai berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, juga Bengkulu yang terhubung dengan empat provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sehingga Bengkulu diharapkan mampu menjadi beranda perekonomian di Sumatera,” terang Rohidin.

Pada para investor, gubernur menjamin sistem perizinan yang mudah dan cepat. Gubernur menegaskan, saat ini Bengkulu telah menerapkan Online Single Submission (OSS) hingga ke seluruh kabupaten/kota.

”Sistem perizinan, kita komitemen bisa dilakukan percepatan. Prosesnya semua sudah online, artinya tidak ada lagi hambatan untuk melakukan perizinan,” tuturnya.

Selain itu, gubernur juga menjamin keamanan bagi para investor yang berinvestasi di Bengkulu. Sebab, kondisi di Bengkulu sendiri menjadi wilayah paling aman dan jarang terjadi konflik sosial.

“Kemanan, keyaman investor itu manjadi kunci utama. Bengkulu sudah siap menyambut itu,” pungkas Rohidin.

Melahirkan Lapangan Kerja Baru

Diprediksi, KEK kedepan mampu melahirkan tenaga kerja baru di Bengkulu dengan menyediakan lebih banyak lapangan pekerjaan, karena kawasan industri mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih besar, seiring dengan itu secara langsung maupun tidak langsung hal itu akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.

Data terhimpun, lokasi rencana KEK berada tepat di belakang Pelabuhan Pulai Baai, dengan luas KEK kurang lebih 415 Ha. Asumsi perhitungan PT.Pelindo II menyebutkan, dari luas lahan industri tersebut, KEK mampu menyerap 100 tenaga kerja per hektarnya.

Maka, sesuai akumulasi perhitungan, sekira 40.800 tenaga kerja akan diserap oleh KEK dengan tiga komposisi tenaga kerja, diantaranya Manager yang akan diserap 3% atau sekitar 1.224 orang, Staf 20% atau sekitar 8.160 orang, dan Buruh 31.416 orang dengan komposisi 1.563 orang penduduk lokal dan 29.853 buruh pendatang. Dengan demikian, total efek bangkitan angkutan pekerja dan barang per hektar kawasan industri mencapai 5,5 smp/hari/ha.

Tidak hanya itu, PT. Pelindo II juga telah memprediksi jumlah kebutuhan lahan yang nantinya dibutuhkan guna kebutuhan papan para buruh selama bekerja di KEK, salah satunya kebutuhan lahan perumahan, diasumsikan tiap 1.5 buruh membutuhkan 1 rumah dan tiap unit rumah membutuhkan lahan 150 m2. Sehingga total luas lahan yang dibutuhkan dari perhitungan 31.416 x 1.5 x 150 = 471.24 Ha. Maka total lahan untuk perumahan dan fasilitas umum adalah 25% dari luas perumahan yang dibutuhkan dengan luas lahan fasilitas umum sekiranya 117,81 ha.

“Dengan kehadiran KEK Pulau Baai Bengkulu ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah baik dari sisi bisnis maupun sosial. Integrasi antara pelabuhan dan area industri meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, tidak hanya itu, hal ini juga berarti kenaikan insentif bagi Pemerintah. Secara sosial, KEK ini membuka lapangan kerja lebih luas dibandingkan sebelumnya,” ungkap Direktur Operasi IPC, Prasetyadi.

Diketahui, IPC sendiri memiliki Hak Pengelolaan Lahan (HPL) seluas 11,926,000m2 yang rencananya digunakan untuk pengembangan Pelabuhan dan KEK Pulau Baai Bengkulu. Area ini didukung oleh fasilitas Terminal Curah Kering, Terminal Curah Cair, Terminal Khusus Hewan, juga infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya. [ADV]

Related Post

Leave a Reply