PMII RL Gelar Dialog Kebangsaan Terkait Isu NKRI Bersyariah

Kamis, 22 Agustus 2019 | 8:34 am | 210 Views

BENGKULU SATU, Curup – Belakang ini mulai mencuat isu mengenai NKRI Bersyariah yang tertuang dalam Ijtima Ulama IV. Isu ini kian mencuat kepermukaan dan menjadi perdebatan ditengah-tengah tokoh agama.

Menindaklanjuti hal tersebut, Pengcab Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rejang Lebong lantas menggelar dialog kebangsaan, Kamis (22/08/2019) dengan mengangkat isu NKRI bersyariah. Bertempat di Gedung Nahdatul Ulama (NU) Rejang Lebong.

Sejumlah narasumber yang hadir diantaranya, Ketua PC NU Rejang Lebong Ngadri Yusro, Ketua PD Muhammadiyah Rejang Lebong Lukman Asha, Kasat Binmas Polres Rejang Lebong Iptu. Lilik Sucipto, Kasat Intel Polres Rejang Lebong, Iptu. Toto Widi Hartanto dan Bati Intel Kodim 0409 Rejang Lebong Peltu. Ferizon.

Ketua PC NU Rejang Lebong Ngadri Yusro menyampaikan, secara tegas pihak NU menolak istilah NKRI bersyariah, yang ada NKRI harga mati yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. “Belakangan ini istilah syariah laris manis digunakan, sehingga disetiap aspek kehidupan menggunakan kata syariah, harus dipahami dulu kata syariah itu,” kata Ngadri dalam dialognya, Kamis (22/08/2019).

Foto kegiatan dialog kebangsaan PMII RL tengah berlangsung

Dia menegaskan, bangsa Indonesia memiliki 4 dasar dalam bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI harga mati, jika 4 dasar itu dipedomani maka tidak ada istilah NKRI syariah.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat, agar tidak mudah terpengaruh terhadap konsep yang dibalut dengan isu agama, karena menurutnya semua ada pada tempatnya, yakni ada aturan dalam beragama dan ada aturan bernegara.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua PD Muhammadiyah Rejang Lebong, Lukman Asha, karena menurutnya istilah NKRI syariah itu memang diciptakan untuk mengeruhkan suasana. “Muhammadiyah tidak sepakat dengan istilah NKRI syariah, rumusan Pancasila itu sudah lengkap tinggal kita praktikkan dan jalankan,” ujarnya.

Kapolres Rejang Lebong Akbp. Jeki Rahmat Mustika melalui Kasat Intel Iptu. Toto Widi Hartanto menambahkan, dalam merumuskan dasar Negara Indonesia berupa Pancasila, para pendahulu tidak mementingkan ego semata, sehingga apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia tercover dalam Pancasila.

Pada sesi akhir dialog kebangsaan tersebut, para peserta yang terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, perwakilan organisasi keagamaan, tokoh masyarakat dan tokoh agama itu menyatakan sikap menolak NKRI syariah. [BN1]

 

Related Post

Leave a Reply