RSUD LEBONG

Cerita Keluarga Miskin yang Tinggal di Rumah Tidak Layak Huni: Jangankan Bedah Rumah, Rastra pun Tak Diterima

IMG_20190128_124431691

BENGKULU SATU – Di tengah dahsyatnya pembangunan infrastruktur di Kota Bengkulu, ternyata masih ada keluarga yang tinggal di rumah yang jauh dari kata layak huni. Mirisnya, satu keluarga sempat dijanjikan menerima manfaat program bedah rumah, bahkan diminta uang administrasi, namun bantuan yang diharapkan tak kunjung datang sampai saat ini. Satu keluarga lagi justru lebih menyayat hati, jangankan bedah rumah, bantuan untuk keluarga miskin seperti raskin (beras miskin) atau rastra (beras sejahtera) juga tak didapatkan.

Rusli Effendi, warga RT 21 Kelurahan Rawa Makmur, bersama istri dan ketiga buah hatinya tinggal di rumah berlantaikan tanah, setelah sebelumnya menempati gubuk reot sejak tahun 2005. Rumah berlantaikan tanah yang saat hujan menjadi becek itu hanya memiliki satu ruangan. Tempat tidur, dapur, ruang keluarga dan ruang tamu menjadi satu. Mereka hanya pasrah menerima keadaan, meski terkadang mempertanyakan dimana pemerintah, kenapa rumah yang lain dapat bantuan, sedangkan mereka tidak.

Sang istri yang untuk mencukupi kebutuhan keluarga menjadi buruh upahan menggarap sawah ini mengungkapkan perasaannya yang terkesan tidak dipedulikan oleh pemerintah. Padahal dia sudah berusaha menjadi warga negara yang baik, dengan terus berpartisipasi menggunakan hak suaranya pada setiap pesta demokrasi. Kesedihan akan keadaan yang seperti ini begitu teramat dirasakan, ketika sang anak bertanya kenapa rumahnya tidak dapat bantuan, sementara rumah teman-teman sekolahnya mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Kami tinggal di sini dari tahun 2005, tanahnya pemberian orang tua, dulu pernah katanya akan dapat bantuan, tapi belum juga. Perasaan kita seperti tidak diperhatikan pemerintah, ibaratnya kalau soal pemilu kita disuruh milih, kita disuruh milih walikota, milih gubernur, milih presiden, tidak boleh golput, tapi kita milih juga tidak diperhatikan, tidak ada bantuan pemerintah ke kita. Kadang sedih waktu anak tanya, bu rumah orang dapat bantuan semua, rumah kawan ada yang dapat, tapi kita tidak. Kita seperti disisihkan, apalagi di Kampung Kelawi kan banyak yang dapat bantuan,” ungkapnya.

“Awal tahun 2018 dulu pernah namanya Pak Syahrul, katanya kerja di Kantor Sosial, dulu pernah minta duit 450 ribu, katanya untuk biaya ngurus agar dapat bantuan, kami kasih. Duit itu hasil anak kami yang besar jualan kerupuk keliling, jadi celengan (tabungan) dibuka waktu itu. Saya sebenarnya tidak mau kasih, tapi kata suami siapa tahu ini rezeki kita, waktu itu dia datang pakai baju PNS, kami yakin-yakin saja, duit itu katanya untuk kirim berkas, dia juga minta fotokopi KTP sama KK, celengan kami buka, uangnya sudah dikasih, sampai kini tidak ada kabar lagi,” tuturnya.

Sementara itu diceritakan Rusli, yang pada tahun 2014 akan mendapatkan bantuan program bedah rumah pada zaman Walikota Bengkulu Ahmad Kanedi. Camat datang ke rumah Ketua RT menyampaikan ada bantuan bedah rumah, ada 17 orang termasuk dirinya yang didata dan diminta untuk memenuhi persyaratan, lalu disurvei dan disuruh menunggu hingga masa pencairan. Kemudian datang pihak Kementerian Perumahan Rakyat memberikan bantuan sebesar Rp7,5 juta, setelah diurus rekening banknya dicairkan Rp3,5 juta, sisanya pada pencairan tahap kedua yang tak kunjung datang sampai saat ini.

“Waktu itu dapat informasi dari pak camat, dia sempat datang ke rumah pak RT, bahwa ada bantuan bedah rumah, 17 orang totalnya, didata dan dipenuhi persyaratan. Akhirnya disurvei naik rumah turun ke rumah, waktu itu Walikota Pak Kanedi, Lurahnya Pak Syairul Komar, sudah disurvei disuruh tunggu masa pencairan. Waktu masih menunggu masa pencairan, ada orang dari Menteri Perumahan Rakyat mengadakan bantuan yang jumlahnya 7,5 juta, pergi lah kami ke bank ngurus rekening, dikeluarkan 3,5 juta masa pencairan pertama,” ceritanya.

“Nah selesai itu tunggu pencairan masa kedua. Upah tukang la dibayar sejuta, beras dua kaleng, menunggu material sampai, sampai sekarang 2019 Alhamdulillah belum sampai. Saya tanyakan, alasan pak camat dan pak lurah katanya ini lahan pemerintah, DAS (Daerah Aliran Sungai), cuma sering saya tanya sama PU kota sama provinsi DAS itu ada batasnya, minimal 50 meter, nah ini sudah 135 meter? Terus waktu buat jalan di sini tahun 1989, waktu jembatan putus, yang diganti pemerintah atas nama tanam tumbuh, bukan tanah. Karena mertua saya tinggal di sini tahun 1973, ngurus suratnya ini tahun 1975, sampai sekarang surat itu masih ada,” Rusli melanjutkan.

“Sabar kami ibarat pisang lah bederai dengan tandan”

Hingga kemudian Rusli mengaku kesal dan hilang kesabaran karena menunggu sudah terlalu lama. Dia pun berinisiatif membangun rumah seadanya (rumah berlantaikan tanah), setelah istrinya mendapatkan bagian menggelar arisan RT dan PKH di rumah (gubuk reot).

“Sabar kami ibarat pisang itu lah bederai dengan tandan. Sabar saya menunggu. Waktu itu orang rumah dapat kebagian arisan RT dan PKH di pondok sebelah, kata saya tunda dulu. Kita gotong royong buat rumah ini, sedikit demi sedikit dibangun, gotong royong dibantu keluarga dan kawan-kawan. Inilah bentuknya, tapi sampai kini biaya nimbun tanah ini upahnya belum dibayar, seng saya DO di Toko Syaiful dua kodi, harga 900 ribu sampai kini belum dibayar,” tukasnya.

Disampaikan Rusli, kondisi rumahnya ini sempat masuk berita salah satu TV lokal Bengkulu belum lama ini, sejak saat itu sejumlah pejabat pemerintahan datang mengunjungi rumahnya, sembari memberikan bantuan berupa pasir, koral dan semen. Bahkan katanya Walikota Bengkulu Helmi Hasan juga akan berkunjung ke sini.

“Sejak masuk media, ada camat datang, lurah datang, sama orang pemerintahan lainnya. Camat bantu koral sedump truck, pasir semobil dump truck, dan lurah bantu semen tiga sak. Mereka katakan pak wali mau ke sini, kalau tidak ada halangan hari Rabu, tapi Rabu sudah lewat, kayaknya berhalangan. Kata mereka bahan-bahan ini juga dikumpulin dulu, jangan dibangun, kemungkinan nanti gotong royong bangunnya. Saya siap menunggu lagi, dan kali ini saya berharap benar pemerintah bisa bantu kami semaksimal mungkin,” pungkasnya.

Jangankan Bedah Rumah, Rastra pun Tidak Dapat

Herlian Syahputra, warga RT 11 Kelurahan Kampung Kelawi, kondisinya tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Rusli, menempati rumah yang jauh dari kata layak huni dan di luar areal permukiman warga, atau bahkan (mungkin) terasingi. Saat hujan deras melanda kawasan ini, ia bersama istri dan dua buah hatinya harus segera mengungsi. Karena banjir mencapai lutut orang dewasa, meski rumah yang ia tempati sudah berbentuk rumah panggung. Jangankan program bedah rumah, program rastra pun tak pernah ia nikmati. MIRIS.

Lian, begitu ia akrab disapa, merupakan seorang buruh serabutan, istrinya hanya ibu rumah tangga biasa yang mengurus kedua anaknya, yang masih bayi dan satu lagi sudah bersekolah. Tinggal di sini sejak tahun 2013, ia menempati tanah pemberian orang tuanya, sudah diserahkan namun belum dibuatkan surat hibah. Hal ini juga yang menjadi (konon) ‘jurus sakti’ sang penyelenggara pemerintahan untuk setidaknya mengusulkan rumahnya agar dibedah, meski program itu ada dan (katanya) nyata.

“Pilih kasih kayaknya, masa yang di atas didata dan dapat semua bantuan, sedangkan kami di bawah ini tidak sama sekali, banjir saja di sini tidak ada yang turun. Kami tahu bantuan bedah rumah berapa kali turun, kata orang harus pakai surat rumah, kami tidak tahu cara ngurusnya, biaya ngurusnya juga belum ada. Tapi bantuan yang lain, PKH, samisake, raskin juga tidak pernah kami dapat, sekalipun tidak pernah, sekedar didata pun tidak pernah sama sekali,” tandas Lian. [Lia/rls]

Bengkulusatu.co.id

Media Siber BENGKULUSATU.co.id diterbitkan oleh PT Bengkulu Sekolah Bersama. Akta Nomor 46 Tanggal 26 September 2017. Pengesahan SK Menkumham RI Nomor AHU-0049482.AH.01.01.Tahun 2017

Baca Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Media Siber Bengkulusatu.co.id ~ Sekolah Bersama

LOGO-JMSI-1
WhatsApp Image 2020-08-20 at 20.37.53
Dinkes Kota Bengkulu Covid-19
BPKAD Kota Bengkulu Covid-19

Recent News