Sumber Gempabumi dan Tantangan dalam Upaya Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami di Wilayah Provinsi Bengkulu

Selasa, 26 November 2019 | 10:48 am | 135 Views

Oleh

Marelia A.P Saputri

(PMG Pelaksana Lanjutan Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Mahasiswa Pascasarjana PSDAL Universitas Bengkulu),

 Reflis

(Dosen Pascasarjana PSDAL Universitas Bengkulu)

 

I. Pendahulan

Indonesia merupakan negara yang berada pada zona pertemuan antar lempeng. Lempeng – lempeng makro tersebut diantaranya Lempeng Indo-australia, Eurasia, dan Pasifik. Zona pertemuan lempeng inilah yang menjadi sumber gempabumi yang ada di Indonesia. Dampak lain bagi Indonesia yang berada pada zona pertemuan lempeng yaitu terbentuknya topografi yang beragam seperti gunung api, danau, lembah, dan bukit.

Provinsi Bengkulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang paling sering mengalami kejadian gempabumi baik yang terasa maupun tidak. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat pada 4 Juni 2000 terjadi gempabumi di Bengkulu dengan magnitude 7.3, kemudian kembali lagi terjadi gempabumi kuat pada 12 September 2007 dengan magnitude 8.4. Berdasarkan sejarah ini, dapat diketahui bahwa Provinsi Bengkulu memiliki potensi akan terjadinya gempabumi kuat.

Berdasarkan lokasi dan batas wilayah yang dirilisi oleh pemerintah Provinsi Bengkulu, dari 10 kota / kabupaten yang ada, 7 kota / kabupaten diantaranya berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Kota / kabupaten yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yaitu Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kaur, Mukomuko, Seluma, dan Kota Bengkulu. Melihat catatan gempabumi besar dan wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia maka Provinsi Bengkulu tidak lepas dari potensi bahaya tsunami.

Upaya mitigasi terhadap bencana gempabumi dan tsunami di Bengkulu menjadi hal penting bagi masyarakat maupun pemerintah. Langkah – langkah yang harus dilakukan baik oleh pemerintah, instansi terkait, maupun masyarakat harus disusun dengan jelas dan dapat dipahami dengan mudah agar saat bencana benar terjadi dapat menyelamatkan banyak jiwa. Oleh karena itu perlu adanya kajian terkait dengan sumber gempabumi dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat dalam upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami di wilayah Provinsi Bengkulu.

 

II. Sumber Gempabumi dan Tsunami

Berdasarkan Peta Sumber Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional, sumber gempabumi di Bengkulu yaitu zona subduksi anatar lempeng Indo-australia dengan Eurasia yang terdapat di barat Pulau Sumatera dan zona sesar. Gempabumi pada zona subduksi inilah yang dapat menimbulkan potensi bencana tsunami, karena dapat menyebabkan perubahan deformasi dasar laut. Zona sesar lebih dominan menyebabkan gempabumi dengan magnitudo yang lebih rendah, namun dapat menimbulkan kerusakan yang parah karena sumber berada di daratan.

Kecepatan gerak lempeng pada zona subduksi barat Sumatera antara lempeng Indo-australia dengan Eurasia beragam, nilainya berkisar 50 – 70 mm / tahun. Sesar yang ada di Bengkulu antara lain Sesar Dikit Ketaun, Musi, Manna, dan Enggano. Kecepatan gerak sesar juga beragam, sesar Dikit dan Ketahun sebesar 11 mm/tahun, Musi dan Manna sebesar 15 mm/tahun, dan Enggano sebesar 5 mm/tahun (Irsyam, dkk., 2017). Secara lebih jelas, zona subduksi dan sesar terdapat pada gambar 1.

Gambar 1. Sesar aktif dan segmen yang di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Peta Gempa Nasional, 2017)

 

III. Upaya Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami

Berdasarakan UU No. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, mitigasi memiliki arti serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Upaya – upaya mitigasi sudah dilakukan oleh pemerintah bersama dengan instansi terkait seperti BMKG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Upaya mitigasi yang dilakukan tidak hanya terkait pembangunan fisik, namun memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bencana khususnya bencana gempabumi dan tsunami.

Upaya mitigasi terhadap bencana gempabumi dan tsunami yang sudah dilakukan oleh BMKG dalam pembangunan fisik diantaranya yaitu pembangunan InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). InaTEWS merupakan sistem peringatan dini tsunami yang melibatkan berbagai institusi dalam negeri seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), BNPB, dan lainnya (BMKG, 2019). Melalui InaTEWS, BMKG mampu memberikan informasi gempabumi dan potensi tsunami kurang dari 5 menit kepada masyarakat dan instansi terkait guna menjadi pertimbangan dalam melakukan evakuasi di zona terdampak bencana.

Upaya penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana gempabumi dan tsunami pada masyarakat juga dilakukan oleh BMKG dalam bentuk kegiatan sekolah lapangan gempa, BMKG goes to school, maupun edukasi melalui sosial media. Kegiatan – kegiatan tersebut dilakukan pada daerah – daerah yang memiliki potensi bencana gempabumi dan tsunami, namun memang belum secara merata pada wilayah Indonesia. Edukasi melalui media sosial yang dimiliki oleh BMKG berisi tentang informasi langkah tanggap darurat yang harus dilakukan masyarakat ketika terjadi bencana, sehingga harapannya masyarakat memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana gempabumi dan tsunami.

Masyarakat juga dapat melakukan upaya mitigasi secara mandiri. Upaya tersebut dapat diperoleh dengan membaca beberapa informasi – informasi terkait dengan potensi bencana gempabumi dan tsunami di wilayahnya. Langkah antisipasi terhadap bencana gempabumi yang dapat dilakukan oleh masyarakat menurut BMKG (2019) terbagi menjadi tiga, yaitu sebelum, sesaat, dan sesudah kejadian gempabumi.

Langkah – langka sebelum gempabumi terjadi antara lain memahami gempabumi, mengenali lingkungan tempat tinggal / bekerja apakah berpotensi bencana gempabumi dan tsunami, memahami tempat untuk berlindung dan jalur evakuasi, mengecek perabotan yang rawan jatuh, dan persiapakan tas siaga yang berisi dokumen penting, P3K, bahan makanan, dan hal penting lainnya. Saat terjadi gempabumi yang perlu dilakukan yaitu saat berada dalam ruangan maka dapat berlindung mencari tempat aman dari reruntuhan, lari ke luar jika masih dapat dilakukan, jika berada di luar bangunan / area terbuka maka menghindari bangunan sekitar agar tidak tertimpa, jika berada dalam kendaraan maka segera turun dan menjauh, jika sedang berada pada dataran tinggi maka perhatikan struktur sekitar karena rawan terjadi longsor, serta jika tinggal / berada di wilayah pantai maka segera lari menjauhi pantai. Setelah terjadi gempabumi maka langkah yang harus dilakukan yaitu jika berada dalam bangunan maka segera keluar dengan tertib melalui jalur evakuasi dan menghindari penggunaan escalator / lift, melakukan pemeriksaan lingkungan seperti kebocoran gas, arus pendek listrik, maupun kebocoran pipa, hindari memasuki bangunan yang terkena gempa karena rawan terhadap reruntuhan, mencari informasi gempabumi yang terjadi, dan yang terakhir yaitu tetap tenang serta berdoa kepada Tuhan.

BNPB juga merilis rumus mitigasi bencana tsunami kepada masyarakat yaitu “SERBA 20”. Rumus mitigasi “SERBA 20” ini meliputi waspada jika terjadi gempa lebih dari 20 detik terutama untuk wilayah pesisir karena bisa saja berpotensi tsunami, segera lakukan evakuasi karena masih ada waktu 20 menit untuk menyelamatkan diri dengan mengikuti rambu jalur evakuasi dan arahan petugas terkait, mencari tempa tinggi minimum 20 meter lebih tinggi dari kawasan pantai.

Gambar 2. Pamflet rumusan 20-20 (Stasiun Geofisika Kepahiang, 2019)

 

Rumusan “SERBA 20” dapat berbeda di tiap wilayah pesisir di Indonesia, dapat saja di Ambon menjadi 20-10-20 atau di Bali menjadi 20-20-10, yang utama untuk segera melakukan evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi ketika terjadi gempabumi kuat (BNPB, 2018). Di wilayah Bengkulu sendiri waktu yang dibutuhkan untuk evakuasi bisa saja kurang dari 20 menit, mengingat lokasi pesisir yang sangat dekat dengan daratan Bengkulu.

 

IV. Tantangan dalam Upaya Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami

Dalam perwujudan nyata di lapangan terkait upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami tentunya akan dihadapkan oleh tantangan – tantangan tertentu. Tantangan ini dihadapi oleh pemerintah daerah dan juga masyarakat pada wilayah yang berpotensi gempabumi dan tsunami. Tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah meliputi aspek kebijakan dan operasional, sedangkan tantangan yang dihadapi masyarakat lebih pada masalah teknis di lapangan.

Tantangan pemerintah daerah di Bengkulu dalam upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami yaitu efektifitas penyusunan kebijakan bidang penanggulangan bencana belum terlaksana dengan baik walaupun sudah ada PERGUB Bengkulu No. 34 tahun 2018 tentang Rencana Penanggulangan Bencana dan kapasitas pemda dalam pemahaman bencana masih kurang sehingga proses penyusunan dan implementasi kebijakan terkait kebencanaan berjalan lambat. Pemerintah daerah dengan instansi terkait belum tersinergi dengan baik, masih terdapat kontraproduktif peraturan dan program kerja yang dibuat masing – masing instansi terkait, seperti contoh pelaksana sosialisasi ke sekolah – sekolah yang dilakukan secara terpisah antara BMKG dengan BPBD.

Tantangan yang dihadapi masyarakat dalam upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami di Bengkulu dapat menjadi kendala pada saat melakukan evakuasi ketika benar – benar terjadi bencana. Tantangan tersbut antara lain:

  1. Keberanekaragaman latar belakang suku, budaya, dan pendidikan memberikan pemahaman dan kesadaran yang berbeda terkait upaya mitigasi bencana tsunami, sebagai contoh ada masyarakat di kawasan pesisir Bengkulu yang membuat bangunan semi permanen yang menutupi rambu evakuasi tsunami yang sudah dibuat pemerintah
  2. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki terkait tindakan dalam upaya mitigasi dan evakuasi yang disebabkan kurangnya sosialisasi dan simulasi kepada masyarakat, sebagai contoh masih banyak masyarakat yang belum memahami jalur dan lokasi evakuasi terdekat dari kawasan pesisir Bengkulu serta pemahaman masyarakat terkait bunyi sirine tsunami yang menganggap sebagai peringatan dini padahal sirine merupakan tanda evakuasi
  3. Pemanfaatan sarana dan prasarana evakuasi tsunami belum secara optimal, baik pada saat kondisi terjadi bencana maupun tidak, sebagai contoh bangunan shelter tsunami di Teluk Sepang, Bengkulu yang terbengkalai.

 

V. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan :

  1. Sumber gempabumi dan tsunami di Bengkulu yaitu zona subduski yang berada di barat Sumaterda dan zona sesar.
  2. Upaya mitigasi dapat dilakukan oleh pemerintah bersama dengan instansi terkait dalam bentuk pembangunan fisik dan pemberian pemahaman kepada masyarakat
  3. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat Bengkulu yaitu memahami wilayahnya dan meningkatkan kesiapsiagaan akan potensi bencana gempabumi dan tsunami
  4. Terdapat tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami di Bengkulu

 

Saran:

  1. Pemerintah daerah bersama dengan instansi terkait untuk dapat segera saling bersinergi dalam upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami
  2. Penegekan hukum yang tegas terkait pelanggaran – pelanggaran yang pembangunan pada zona rawan bencana
  3. Masyarakat dapat lebih meningkatkan pengetahuan scara mandiri terkait mitigasi bencana gempabumi dan tsunami tanpa menunggu adanya kegiatan sosialisasi / simulasi yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun instansi terkait.

DAFTAR PUSTAKA

 

BMKG. 2019. Antisipasi Gempabumi. https://www.bmkg.go.id/gempabumi/antisipasi-gempabumi.bmkg (26 November 2019)

BMKG. 2019. Tentang InaTEWS. http://inatews2.bmkg.go.id/new/about_inatews.php? urt=1 (26 November 2019)

BNPB. 2018. Arsip Berita Humas BNPB. https://bnpb.go.id/berita (26 November 2019)

Irsyam, M., Widiyantoro, S., Natawidjaja, D.H., Meilano, I., Rudyanto, A., Hidayati, S., Triyoso, W., Hanifa, N.R., Djarwadi, D., Faizal, L., dan Sunarjito. 2017. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, Tim Pusat Studi Gempa Nasional, Jakarta.

 

Related Post

Leave a Reply