1,5 Tahun Jadi Plt, Dirut RSUD Lebong Mau Mundur

Jumat, 29 November 2019 | 12:07 am | 291 Views

BENGKULU SATU – dr. Ari Afriawan tampaknya sudah merasa tak nyaman akan jabatannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lebong. Hal tersebut lantaran beliau merasa telah terlalu lama menjabat sebagai Plt. Direktur RSUD Lebong, sekitar 1,5 tahun, tepatnya sejak 20 April 2018 lalu.

Dikatakan Ari, dirinya telah sempat menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lebong, Mustarani Abidin, SH. MH, namun pengunduran diri tersebut ditolak, dan dijanjikan secepatnya akan didefinitifkan.

“Saya sudah pernah ajukan pengunduran diri, namun ditolak oleh Sekda,” kata Ari kepada awak media ketika disambangi di ruangannya, Kamis (28/11/2019).

Lanjut Ari, dengan jabatan Plt yang diembannya, dirinya merasa kesulitan karena terbatasnya kewenangan seorang Plt, dan itu juga memicu terganggunya proses layanan di RSUD. Selain itu, Ia juga merasa dirugikan karena dengan jabatan Plt tersebut ada tunjangan yang tidak didapatkannya, dan itu mencapai Rp 35 Juta dalam kurun waktu 1,5 tahun ini.

“Kewenangan seorang Plt itu terbatas, untuk mengambil kebijakan atau keputusan saya tidak leluasa karena saya hanyalah seorang Plt. Lebih dari itu secara pendapatan yang saya terima tidak sesuai dengan tanggung jawab yang harus saya emban. Saya menjalankan tugas direktur, tapi saya tidak mencicipi gaji direktur, kalau mau dikalkulasi dalam 1,5 tahun ini saya hitung mencapai Rp 35 juta selisihnya. Kalau tidak juga didefinitifkan dalam waktu dekat ini, rasanya saya lebih baik mundur,”

Perlu diketahui, dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 13 tahun 2014 tentang Tata Cara Pengisisan Pimpinan Tinggi baik itu Tama, Pratama, dan Madya tidak boleh terlalu lama yakni maksimal enam bulan.

Begitupun dengan jabatan seorang Direktur atau pimpinan rumah sakit. Semenjak Tahun 2009 dengan terbitnya Undang-undang Nomor 44 tentang Rumah Sakit direktur atau pimpinan rumah sakit harus berasal dari tenaga medis. Hal tersebut terdapat pada pasal 34 ayat 1 yaitu berbunyi Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang kerumahsakitan. [Traaf]

 

Related Post

Leave a Reply