Dinilai Tak Siap, PT RBM Keluhkan Mobilisasi Alat Kerjakan Proyek Jalan di Lebong

Rabu, 7 Agustus 2019 | 1:32 pm | 496 Views

BENGKULU SATU – PT Rancang Bangun Mandiri (RBM) merupakan pemenang tender paket hotmix jalan senilai 10,8 miliar di Kabupaten Lebong. Paket pekerjaan yang terbilang besar tersebut terdiri dari 12 link yang jaraknya cukup berjauhan yakni, jalan atau Gang Sepakat samping kantor PDAM, Gang Famili, Jalan Kampung Gandung menuju Saringan, Jalan Daneu, Jalan Desa Mangku Rajo, Gang Pencucian Desa Kampung Muara Aman, jalan lingkungan Suka Bumi, halaman kantor Dinkes, halaman PKM Muara Aman, jalan Karang Dapo menuju Turan Lalang, jalan yayasan, dan jalan Bukit Harapan.

Namun dalam pengerjaanya, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Perhubungan (DPUPR-Hub) menilai PT RBM lalai dalam pengerjaan pekerjaan paket jalan tersebut. Pasalnya proyek dengan nilai kontrak yang terbilang besar tersebut telah ditandatangani sejak tanggal 25 Mei 2019 lalu, namun baru mulai dikerjakan sekitar bulan Juli 2019.

Melihat kondisi demikian, Pihak DPUPR-Hub pun tidak tinggal diam lalu mengambil inisiatif untuk memanggil pihak rekanan guna melakukan rapat pembuktian pertama atau Show Cause Meeting (SCM 1). Digelarnya SCM 1 sepertinya tidak membuat pihak rekanan terpacu, dan hampir saja pihak Dinas PUPR menggelar SCM 2.

“Kita sudah SCM 1, kalau belum juga terlihat progres yang nyata dalam waktu dekat ini mungkin kita akan adakan SCM2, dan kalau sampai dengan limit kita nanti capaian kerja mereka belum juga nampak, maka kita akan adakan SCM 3 dan dalam pelaksanaannya, akan langsung dilakukan pemutusan kontrak karena dianggap tidak mampu menyelesaikan pekerjaan. Memang batas pengerjaan akhir tahun, namun dalam time Schedule telah dibuat,” kata Kabid Bina Marga, Dodi Irawan, ST ketika dikonfirmasi beberapa waktu lalu (1/8/2019) lalu.

Selain itu, Dodi pun menilai PT RBM kurang profesional dan sepertinya tidak siap dengan paket pekerjaan yang dimenangkannya itu. Seharusnya sebelum melakukan penawaran pihak rekanan sudah membaca item pekerjaannya seperti apa dan apa saja alat yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan itu.

“Saya nilai mereka (PT RBM,red) tidak siap, masa sudah dua bulan kontrak mereka belum juga bergerak. Alasan mobilisasi lah , inilah, itulah, kan dak siap namanya itu. Heran aja perusahaan seperti itu bisa menang,” tutur Dodi.

Sementara itu, General Support (GS) PT RBM, Jumadi saat dikonfirmasi terkait hal tersebut mengaku pihaknya terkendala dalam hal mobilisasi alat mengingat jarak lokasi 12 link paket tersebut cukup berjauhan.

“Kami mengalami kesulitan karena 1 paket ini terdiri dari 12 link yang letaknya berjauhan, sehingga kami kesulitan mobilisasi alat maupun personil,”ungkapnaya, Senin (5/8/2019).

Menariknya lagi, ketika ditanya terkait AMP (Asphalt Mixing Plant), GS tersebut tampak kebingungan dan gagap, yang kemudian mengakui perusahaannya (RBM) ternyata tidak punya AMP. Untuk dapat menyelesaikan pekerjaan hotmix jalan yang dimenangkannya itu, diakui Jumadi, pihaknya mengandalkan kerjasama dengan pihak lain /KSO (kerjasama operasional).

“Kita memang tidak punya AMP tapi kita ada KSO, untuk pastinya saya juga tidak tahu terkait AMP ini, saya baru disini, saya tidak mulai dari awal,” tutur Jumadi sedikit terbata. [Traaf]

 

Related Post

Leave a Reply